Lantaran sastra amat dekat dengan cerita dan dongeng, maka di paper sederhana ini saya akan bercerita saja. Barangkali lewat cerita yang cair, pokok-pokok pikiran justru lebih mudah disampaikan.
Pada mulanya adalah masa kecil yang riuh. Saya bersyukur, ketika kecil
sudah dekat dengan beberapa bacaan. Saat itu saya berkenalan dengan
majalah Bobo dan Mentari. Alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk
berlangganan dua majalah anak-anak tersebut. Dari banyak rubrik di
kedua majalah itu saya sangat menyenangi rubrik cerita pendek. Masih
lekat pula di ingatan saya, pada masa itu saya akrab pula dengan
dongeng-dongeng yang diceritakan di malam-malam yang hangat oleh orang
tua dan kakek-nenek saya.
Tanpa saya sadari, bacaan yang saya konsumsi dan dongeng-dongeng yang
saya dengar mematik imaji saya. Yang di kemudian hari menjadi
benih-benih cerita yang satu-persatu mulai mewujud.
Selanjutnya, bacaan saya berkembang saat saya menginjak bangku sekolah
dasar. Rumah saya ketika itu amat dekat dengan persewaan komik. Tak
ayal, setiap akhir pekan saya menyewa empat sampai lima komik untuk
saya lahap seharian. Dulu saya gemar betul membaca komik Doraemon dan
Conan. Tapi sekarang saya tidak terlalu suka membaca komik. Entah
mengapa. Di samping komik, ketika itu bacaan saya agak meluas lantaran
memiliki akses ke perpustakaan sekolah. Lagi-lagi buku yang saya comot
adalah buku cerita. Satu buku cerita anak-anak yang belum saya lupakan
sampai sekarang adalah sebuah buku yang berkisah tentang persahabatan
seorang anak desa dengan burung gelatik. Sayangnya, saya lupa judul dan
pengarang buku itu.
Setelah lulus SD saya hijrah ke Solo dan masuk pesantren. Bagi saya,
dari Ponorogo ke Solo adalah sebuah perpindahan yang mahal. Pasalnya di
Solo saya bisa belajar banyak hal. Persentuhan saya dengan sastra juga
semakin intens. Sejujurnya, masa-masa di pesantren adalah masa yang
membahagiakan. Karena saat itu bacaan begitu melimpah dan untuk kali
pertama tulisan saya dimuat di media massa. Cerpen pertama saya yang
dimuat berjudul
Topeng Bakmi. Bercerita tentang seorang tukang bakmi yang ternyata adalah provokator di sebuah demonstrasi. Sehingga demo berakhir
chaos. Cerpen itu dimuat di majalah pesantren yang dicetak tidak sedikit. Dari sana saya jadi percaya diri dan mulai rajin menulis.
Perjalanan takdir membawa saya bertemu dengan sebuah sekolah yang
membuat banyak perubahan di hidup saya: MAPK Solo. Saya harus bilang
bahwa sekolah ini adalah sekolah yang tiada tanding. Saya bisa bilang
begitu justru ketika saya sudah lulus dari MAPK. Ya, sesuatu yang
dilihat dari luar kadang memang lebih objektif. Saya dan kita semua
sepatutnya berbangga menjadi bagian dari MAPK Solo karena sekolah ini
adalah sekolah yang istimewa. Meski hanya sekolah di pinggirang kota
Solo, berdekatan dengan kuburan, serta luasnya tak seberapa, tapi sudah
berapa alumni yang bisa dikirim ke luar negeri? Berapa alumni yang
‘jadi orang’ di kampus-kampus besar di Indonesia? Entah yang menjadi
ketua BEM, ketua organisasi,
think thank di sebuah komunitas dan lain sebagainya.
Saya pikir, apa yang saya utarakan di atas sudah menjadi
common sense,
semua sudah tahu. Namun, ada hal penting yang kadang luput
diperhatikan, yakni terkait proses bagaimana siswa-siswi MAPK ditemani
dalam tumbuh kembangnya. Maksud saya adalah mengenai iklim dan sistem
yang terbentuk di MAPK Solo ini. Saya tidak tahu, sekolah mana yang
punya acara sebagus Stratik, Gesma, CPI, LF, LC, CDR, HAC, muhadloroh
dan acara-acara lain yang sudah menjadi ciri kuat MAPK Solo. Saya
melihat dari lomba-lomba dan kegiatan itu ada kecenderungan bahwa MAPK
sungguh-sungguh ingin memberdayakan anak didiknya baik dari sisi
kesenian, intelektual, spiritual dan mental.
Pembacaan saya, akan muncul jiwa-jiwa kompetitif dalam diri siswa-siswi
MAPK lantaran biasa mengikuti lomba. Entah itu lomba di dalam ataupun
di luar. Nuansa kompetitif itu diperkuat pula dengan sejumlah
pelatihan, semisal pelatihan menulis dan kaligrafi yang diadakan rutin
seminggu sekali, yang tentu saja akan menaikkan ‘derajat’ siswa itu
sendiri. Di MAPK Solo, kita sejatinya juga sudah ‘belajar pluralisme’
jauh sebelum orang-orang ribut soal pluralisme. Ya, keberagaman sudah
bukan barang baru di MAPK. Mereka yang PAN, PKB atau PKS bisa
jalan-jalan bareng dengan santai. Mereka yang NU dan Muhammadiyah bisa
satu kamar tanpa ada ribut.
Dan saya bersyukur telah menjadi bagian dari itu semua.
Kini saya bisa mengenang sejumlah cerita saat saya di MAPK yang kadang
membuat saya mengharu biru. Saya pertama-tama ingin mengingat ketika
saya dan beberapa teman menginisiasi berdirinya Komunitas Ketik. Sebuah
komunitas kepenulisan, kecil, tanpa funding, yang hingga kini
masih terus bergeliat. Saya, Arobi, Cindy dan Nafisah (kami dari MAPK)
adalah penggagas awal berdirinya komunitas tersebut. Kelas atas MAPK
juga merupakan saksi bisu berdirinya Komunitas Ketik. Komunitas yang
pada awalnya beranggotakan 13 orang dari 5 SMA di Solo ini terus tumbuh
dan masih rajin melakukan kerja-kerja nirlaba mengkampanyekan gerakan
gemar membaca-menulis di beberapa SMA di Solo. Dan setiap ulang tahun
komunitas ini, yakni pada tanggal 17 Juni, selalu diperingati secara
meriah.
Saya juga ingin bercerita saat tim mading MAPK Solo bisa menjadi yang
terbaik di Kota Solo. Mengalahkan SMAN 1, SMAN 3 dan Assalam. Padahal
‘modal’ kita hanya alakadarnya. Tapi secara kreatifitas dan konten kita
boleh diadu. Saya juga terkenang saat mengantarkan majalah Inthilaq
menjadi terbaik ketiga tingkat Jawa Tengah. Bersama seorang kawan, usai
sholat subuh saya berangkat ke Unnes, Semarang untuk mengambil piala
serta hadiah. Dan saat sore hari kami pulang ke asrama, sambutan meriah
teman-teman ternyata sudah menanti. Pun saya ingat saat menjuarai
lomba menulis cerpen di SMAN 1 Solo, yang tak lama berselang di sambung
dengan menyabet juara dua (sekaligus juara 1) lomba menulis esai
Harian Joglosemar. Karena lomba itu, saya berkesempatan untuk makan
siang bersama Pak Jokowi di Loji Gandrung, rumah dinas
walikota di Jalan Slamet Riyadi. Saya yakin, semua yang saya raih
bukan semata-mata karena kerja keras saya, ada campur tangan MAPK dan
Tuhan di sana.
Untuk semua anugerah itu saya ingin mengucap terima kasih sebesar-besarnya.
Kabar dari Kesunyian dan Sastra Tepi Jalan
Setelah saya panjang lebar bercerita tentang ‘diri saya’ di masa
lampau, di bagian ini saya ingin bercerita tentang buku kumpulan cerpen
dan pandangan saya mengenai sastra. Pada mulanya adalah cinta. Saya mencintai sastra dengan cinta yang
sederhana. Di awal kuliah, saat saya sudah berjarak dengan teman-teman
Komunitas Ketik, saya memiliki angan-angan untuk membentuk sebuah
komunitas sastra di UIN Jakarta. Tak membuang waktu, hadir Tongkrongan
Sastra Senjakala, yang saya bidani kelahirannya bersama dengan sahabat
Nasihin Aziz Raharjo (alumni MAPK dua tahun di atas saya). Komunitas
sastra kecil yang independen (tanpa funding) itu menggelar
diskusi rutin mingguan setiap hari Rabu jam 4 sore hingga senja tiba.
Selain juga rutin menerbitkan buletin sastra bulanan, Teh Hangat.
Puncaknya, Tongkrongan Sastra Senjakala berhasil menerbitkan buku
kumpulan cerpen bertajuk Sunyi, kumpulan cerpen pertama mahasiswa UIN Jakarta.
Tongkrongan Sastra Senjakala terus berproses hingga muncul gagasan
membentuk Penerbit Buku Senjakala. Gagasan itu tidak hanya berhenti di
langit, tapi telah turun ke bumi dengan penerbitan buku perdana: Kabar dari Kesunyian.
Sebuah buku kumpulan cerpen yang berisi 15 cerpen saya. Kebetulan
cerpen-cerpen di buku itu sudah pernah mampir di beberapa surat kabar
semisal Republika, SoloPos, Joglosemar, Jurnal Nasional dan lain-lain.
Menurut hemat saya, pemuatan cerpen saya di sejumlah media massa bukan
berarti saya adalah pengikut arus utama sastra Indonesia, yakni sastra
koran. Saya hanya ingin ‘mengukur’ sejauh mana tingkat penerimaan karya
saya oleh para redaktur sastra koran.
Di Tongkrongan Sastra Senjakala saya sebenarnya ‘diajarkan’ untuk terus
mengusung manifesto ‘sastra merdeka’. Manifesto itu pada intinya
menekankan kemerdekaan dalam berkarya. Salah satu bunyi manifesto
sastra merdeka adalah “…tidaklah bijak bila akhirnya
karya sastra hanya bisa dibaca dan difahami oleh orang-orang tertentu.
Bila seperti ini kejadiannya yang menjadi buruk adalah sastra tidak
menjadi karya yang populis dan demokratis, justru karya sastra seakan
menjadi wadah dari kesombongan intelektual…“
Dalam berkarya saya tidak ingin bersetia pada sebuah
gerbong, misalnya, sastra Islam, sastra surealis, sastra realisme magis
dan aliran-aliran lain dalam sastra. Marilah kita memerdekakan diri
dalam berkarya. Sastra saya juga semoga tidak menghamba pada uang,
yaitu selalu berupaya menukar karya dengan rupiah. Tidak pula
menuhankan koran atau media massa sebagai satu-satunya labuhan akhir.
Biarlah ia merdeka apa adanya. Sebab, setahu saya, antara berkesenian
dengan pamrih dan tanpa pamrih jelas berbeda kualitas dan nilai
kegembiraannya.
Semoga saya masih bisa memegang satu pedoman berkarya:
menulis untuk menulis. Tidak peduli karya saya nanti berada di tengah
jalan utama kesusasteraan Indonesia atau cuma berada di pinggiran. Jika
ada yang punya kesempatan untuk membuka cerpenzakky.blogspot.com akan
terbaca bahwa dalam menulis sastra saya mungkin sedang menulis sastra
tepi jalan. Tulisan-tulisan yang tidak diperhitungkan. Yang tidak
berada dalam arus besar sastra Indonesia. Tapi itu tidak masalah. Sebab
memang bukanlah itu yang kita cari. Di atas segalanya, kita ingin
menemukan kegembiraan dalam sastra. Dalam menulis puisi, cerpen, novel
atau apapun wujudnya. Mari kita tempuh sastra tepi jalan.
(Dasalin dari www.zakky.zulhazmi.com)